Shared Hosting = Keluarga

Posted on

Seorang teman mengeluh karena hosting untuk blognya seringkali error establish database, blank page, run time out, down dan bla bla bla.

Saya coba cek di whois.domaintools.com/domain.com pada bagian tab “server stats” memang overload.

http://img820.imageshack.us/img820/6466/domaintools1.jpg

http://img210.imageshack.us/img210/1186/domaintools2.jpg

Jumlah domain dalam IP server tersebut 2.089. Belum IP yang lain. Dan belum ditambah subdomain.

Shared hosting itu ibaratnya rumah yang ditempati oleh keluarga secara bareng-bareng. Orang tuanya adalah webhoster. Anak-anaknya adalah pengguna shared hosting.

Kalau dalam keluarga Anda, adik Anda begitu egois menghabiskan listrik, sehingga ketika Anda menyalakan TV, langsung listrik padam karena ga kuat. Lalu apa yang akan Anda lakukan? terus memaksakan diri untuk memutar TV? alternatifnya yaitu :

1. Usir adik Anda dari rumah *wuih sadis.com*

2. Anda yang keluar dari rumah dan kontrak rumah sendiri biar leluasa. Bebas menggunakan listrik sepuasnya. :beer:

3. Ortu mematikan listrik untuk adik

Adik itu adalah saudara Anda sesama pengguna shared hosting. Orang tuanya adalah pengelola server / manager akun (bukan reseller, tapi root). Dan Anda sendiri adalah anak-anak dari orang tua tersebut.

(Saya menyebut hanya pengelola server, bukan reseller. Karena reseller tidak punya akses untuk memperbaiki server)

Kalau saya pribadi, saya lebih memilih alternatif kedua. Kenapa ? karena kebutuhan listrik saya juga besar. Dan itu untuk kelancaran bisnis saya. Jika bisnis Anda jauh lebih penting daripada biaya untuk hosting yang buat beli 1 mangkok bakso saja sampai tumpah, saya yakin Anda setuju dengan pilihan saya. Sudah sewajarnya orang yang lebih dewasa lebih suka mengalah, karena mengalah bukan berarti kalah.

Anda bisa baca artikel saya sebelumnya tentang urunan VPS.

Saya pribadi menempatkan beberapa klien yang berani membayar lebih, di server yang usernya sangat dibatasi. Dan memang serba dibatasi. Harapannya “kualitas” yang artinya adalah “free of error” bisa dipertahankan. Kestabilan server itu penting!

Sudah jangan punya pikiran “kalau pakai VPS, entar cara instal cpanel gimana, cara beli lisensi cpanel gimana, cara instal softaculous gimana, cara setting whm gimana, saya tidak mengerti linux, saya tidak tahu SSH, cara setting tweak gimana, entar kalau down gimana, entar kalau dihack gimana,  cara back up database otomatis gimana, dst”. Jangan terlalu banyak alasan! Anda punya mbah google yang bisa menjawab pertanyaan Anda itu : “how to install cpanel on vps”, “how to buy instant cpanel license”, “how to setup tweak cpanel”, “how to set cpanel security” dst. Atau kalau Anda tidak ingin kerepotan dengan SSH, Anda bisa beli VPS yang managed, yang artinya semua disetup oleh penjual VPS.

Jangan jadi childish dengan mengolok-olok dan menfitnah webhoster Anda di forum-forum yang notabene di situ adalah market mereka, karena ini akan menciptakan persepsi negatif.

Jangan mengolok2 webhoster karena tidak bisa memberikan pelayanan yang baik. Webhoster itu tidak hanya mengurusi web Anda saja. Ada ratusan lebih klien yang butuh perhatian yang sama.

Saya salut dengan pernyataan seorang teman webhoster lain : “Saya rela tidak jadi menikah bulan oktober yang lalu demi tetap memberikan pelayanan yang terbaik buat klien. Karena hanya saya saja yang mengerti server dalam tim ini. Dan saya rela merogoh kocek (neraca jadi negatif) untuk menyewa server yang bagus agar wuzzz wuzzz”, demikian saya menirukan pernyataannya di YM.

Saya berharap Anda bisa mengambil pilihan yang terbaik! Management berbasis solusi, bukan alasan!

3022 Total Views 3 Views Today

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons