Kecerdasan Finansial Yang Harus Anda Miliki

Hidup ini memang penuh banyak pilihan, tapi kita harus memilih beberapa di antaranya. Salah satu cita-cita saya 7 tahun nanti adalah sudah memilik passive income minimal 50 juta/bulan. Untuk apa ? Ya, saya ingin ke depan lebih banyak fokus pada pelayanan sosial, tanpa harus terus menerus sibuk di bisnis lagi. Biarkan bisnis yang ada diteruskan oleh anak-anak atau didelegasikan ke orang lain yang bisa dipercaya.

Anggap saja usia Anda saat ini adalah 30 tahun, dan usia harapan hidup orang Indonesia adalah 70 tahun, maka jika kebutuhan minimal 10juta/bulan, diperlukan dana : 10 juta x 12 Bulan x 40 tahun  = Rp. 4,8 M. Jika 4,8 M ini dibagi menjadi 7 tahun, maka pertahun harus bisa menghasilkan laba bersih sebesar Rp. 685 juta. Jika uang tersebut hanya ditabung saja, maka semakin lama akan semakin habis dimakan oleh Raksasa yang bernama “INFLASI”… Jadi jika ada uang, jangan cuma semua ditabung saja, melainkan dialihkan untuk investasi dan ataupun bisnis. Investasi ditujukan untuk melawan raksasa INFLASI yang terus meningkat dari tahun ke tahun, sedangkan bisnis ditujukan untuk mendapatkan uang dalam waktu yang cepat.

 

Menunda Kesenangan

Kenapa sih makin lama bisnis saya berkembang, atau ketika saya terus naik jabatan di perusahaan dan punya banyak uang, tapi malah makin tidak punya banyak waktu untuk keluarga dan beribadah?

Kapan yah saya bisa punya banyak waktu buat keluarga dan beribadah, tanpa harus pusing mikirin nyari uang lagi?

Ketika sudah tidak bisa bekerja lagi, makin lama makin nyungsep, hutang dimana-mana, sakit-sakitan, tidak ada kiriman uang dari anak…. Jangan sampai hal ini terjadi!!! Segera antisipasi!

Berikut tips yang bisa Anda lakukan :

1. Menunda Kesenangan
2. Menyisihkan uang untuk investasi dan bangun aset yg bisa menghasilkan passive income
3. Mengulangi hal tersebut berulang-ulang dan hanya membeli barang konsumtif melalui income pasif, bukan aktif

 

Yang di maksudkan menunda kesenangan adalah :

1. Tidak Pergi berlibur dengan menghabiskan banyak uang dulu. Sisihkan uang untuk investasi.
2. Tidak Banyak hang out yang tidak penting untuk menghabiskan uang dan lifestyle (nongkrong tidak jelas, memperkaya orang kaya dengan beli barang mahal di mall, dll)
3. Tidak Banyak menghabiskan uang untuk membeli gadget atau barang yang tidak berguna (mis : Smart Watch, padahal olahraga aja jarang-jarang)
4. Tidak banyak gaya karena memang belum saatnya
5. Tahu prioritas, apakah harus dibeli saat ini atau masih bisa ditunda.

Dan Anda tahu kenapa Anda masih bekerja sampai saat ini dan mungkin ketika Pensiunpun Anda masih bekerja?

Hal itu karena :

1. Anda kebanyakan gaya dengan libur ke sana ke sini pakai uang yang cuman dari hasil gaji / bisnis Anda (dari sumber pendapatan utama, bukan pasif)

2. Anda terlalu boros membeli barang konsumtif dan tidak terpakai dimana, walau tidurpun nilainya menyusut tanpa Anda sadari ketika ingin jual lagi.

3. Anda terlalu irit dan pelit untuk investasi ilmu, tapi ga pelit untuk menghibur diri Anda.

Jadi Sudah tahu kenapa hidup Anda sampai hari ini masih gitu-gitu aja dan bahkan menurun?

Ketika ingin beli mobil seharga 500 juta, coba pikirkan jika seandainya 500 juta itu untuk membeli/membangun rumah kost-kostan atau ruko kecil-kecilan untuk disewakan. Inilah yang harus dikorbankan. Ketika menunda kesenangan dan membangun Aset Berpenghasilan pasif, orang lain malah sibuk jalan-jalan dan selfie di luar negeri. Setelah 5 tahun semuanya akan terasa berbeda, karena kerja keras dan menunda kesenangan tidak pernah membohongi hasil akhirnya!

NUMPANG HIDUP SAMA ANAK ! Dan ga ngasih / tinggalin Warisan Apapun !

Kita jangan jadi generasi seperti itu. Justru kita harus bisa :

1. Beliin orang tua Rumah, beri kehidupan yang lebih baik, Naik hajikan / berangkatkan ke Tanah Suci
2. Tidak minta, bahkan rebutan Warisan Orang tua, terutama Rumah orang tua dijual demi bagi warisan lalu orang tua ditelantarkan!

Semua itu bisa terjadi tentunya jika kita sudah mandiri dan punya Aset Sendiri ! Aset di sini berbeda dengan liabilitas.. Aset adalah hal yang menghasilkan uang, bukan yang malah yang tekor karena mengeluarkan uang.

Orang disebut KAYA yang sesungguhnya ketika :

  1. Passive income melebihi gaya hidup
  2. Lebih banyak memberi untuk sesama

Sekitar 7 tahun lalu ada seorang pemilik toko berkata begini : “Saya sekarang suruh beli mobil alphard bisa, tapi mending sekarang saya belikan mobil pickup dan menambah toko-toko saya. Dan lihat saja 5 tahun lagi pasti toko saya pasti akan bertembah lebih banyak lagi”. Dan benar saja, setelah 7 tahun berlalu, kini tokonya yang semula hanya satu jadi 7 dan dia bisa membeli mobil sekelas alphard, malah lebih bagus dibanding alphard. Pelajaran dari hal ini adalah : ada orang yang bisa mengelola uangnya untuk melipatgandakan, tapi ada juga orang yang tidak bisa. Sebenarnya tidak ada orang yang BODOH, yang ada adalah orang yang MALAS!… Malas untuk memutar otaknya dan menggerakkan tubuhnya.

 

Belajar menjadi INVESTOR

Keputusan yg paling penting dalam kehidupan keuangan kita, apa pun profesi kita, adalah memutuskan untuk menjadi seorang Investor. Sehingga kita punya passive income yang MELEBIHI gaya hidup kita. Ingat kuncinya : Passive income yang melebihi pengeluaran untuk memenuhi gaya hidup kita… Tidur pun dapat income. Jalan-jalan ke luar negeri pun uangnya bertambah. Ditinggal olah raga pun uangnya bertambah.

Kecerdasan Keuangan dimulai dengan mengenal 2 hal :

  • Pendapatan (Income)
  • Pengeluaran (Spending)

 

Pendapatan ada 3, yaitu :

1. Active income
2. Portfolio income
3. Passive income

 

Mari kita bahas satu persatu :

1. Active income
Baik kita kerja ikut orang (pajak progresif sd 30%), menjadi seorang profesional (dokter, notaris, dengan pajak progresif dikali penghasilan kena pajak sesuai norma yang berlaku), maupun buka bisnis (Badan Usaha pajaknya progresif 12,5% – 25%, bagi deviden tambah 10% lagi).

– Kerja ikut orang

– Profesional: Dokter, Penyanyi, Lawyer, Notaris, Fotographer, Pembicara, Guru Les dll yg tidak bisa digantikan orang lain

– Bisnis yg tidak bisa jalan tanpa kehadiran Anda (belum autopilot / semua pekerjaan dirangkap oleh Anda)

 

2. Portfolio Income
Yaitu income yg timbul karena Capital Gain dari asset kita. Misal properti beli dari th 2005 Rp. 2 M, sekarang th 2017 jadi Rp. 20 M. Maka kekayaan meningkat Rp. 18 M tanpa disadari. Pajak Final dari Rp. 20 M, hanya 2.5%, jauh lebih murah daripada jadi karyawan atau bisnis sendiri. Ini yg di sebut Ghost Income, Phantom Income, atau Invisible Income. Income yg tidak kelihatan. Tidur tambah kaya tanpa disadari. Sayang kalau kita tidak mengembangkan income jenis ini karena tidur pun kita bertambah kaya.

Bisa juga dari kenaikan harga saham, misal kita beli saham tahun 2007 harga Rp. 1 M, sekarang jadi Rp. 10 M. Pajak Final hanya 0.1% dari saham Rp. 10 M jika dijual. Murah banget tho??? Namun saham secara umum lebih beresiko karena harga lebih fluktuatif. Lebih baik BELAJAR dengan benar terlebih dahulu.

 

3. Passive income
Yaitu Income dari Sewa Properti kita (Pajak final 10%). Atau Deviden dari Saham. Bunga Deposito (ini kurang bagus karena tidak ada capital gain atau kenaikan harga modal, pajak 20% final.., tapi ya lumayan dari pada tidak ada). Income dari Royalti Buku, Lagu, Sistem kerja, Patent penemuan, dll.

– Properti : kos-kosan, rumah bedeng, ruko- apartemen-kios-gudang-mal yang disewakan, tanah bagi hasil, hotel, sarang walet dll.

– Bisnis yang jalan tanpa kita.

– Surat berharga : deviden dari saham, bunga deposito, royalty dari buku, cd, sistem.

– MLM, franchise

 

Sementara itu, spending ada 4, yaitu :

1. Produktif
2. Konsumtif
3. Tampak Produktif padahal konsumtif
4. Tampak Konsumtif padahal Produktif

 

1. Produktif
Yaitu pengeluaran yang menghasilkan Aktif Income, Pasif Income dan Portfolio Income Lebih Besar

 

2. Konsumtif
Yaitu pengeluaran yang:

– Langsung Hilang, habis tidak ada nilainya lagi. Misal Untuk Makan, Minum, Pakaian, Tour, biaya perjalanan, main game, dll.

– Passive Spending : Yang tidur pun terus harus keluar tiap bulan/tahun (tiap waktu tertentu). Seperti cicilan bank (walau untuk beli properti yang ada capital gain), biaya bulanan listrik, air, telpon, langganan internet, biaya sewa kost, sewa rumah, netflix, HBO, Apple Music, Google drive, iCloud, Spotify, cicilan motor, mobil, panci, karyawan yang tidak produktif, punya mobil yang jarang dipakai…dll.

 

3. Tampak Produktif padahal Konsumtif

Ini adalah pengeluaran seolah-olah perlu untuk kegiatan produktif yang dapat meningkatkan Income, baik scr Aktif, Pasif maupun Portfolio, padahal tidak perlu. Contoh : nyicil motor baru dengan alasan untuk kerja, padahal cuma untuk Gaya. Motor bekas memang kenapa? Nabung dulu baru bayar tunai motor bekas yg harganya jauh lebih murah dan masih handal dipakai.

Contoh lain: jual 5 ruko sewaan utk bangun rumah tinggal yg mewah. Betul secara umum rumah mewah pun akan naik nilainya, ada capital gain/portfolio income. Namun, mestinya tidak perlu menjual 5 ruko karena ruko juga akan dapat capital gain. Sedang ruko tadinya bisa di sewakan dan menghasilkan Passive income. Sekarang jadi rumah mewah yang ditempati sehingga tidak ada passive income malah jadi keluar Passive Spending seperti biaya Listrik, Air, Keamanan, Pajak Bumi Bangunan, biaya perawatan dll yang terus wajib keluar tiap bulan tiap tahun. Capek Deh!

 

4. Tampak Konsumtif namun sebenarnya Produktif

Ada 3:

– Untuk Belajar, baik ikut Seminar, Beli Buku, CD, langganan Rangkuman buku-buku bermutu, Kursus, Pelatihan, Olah raga yg meningkatkan kesehatan… dll

– Bergaul dengan orang-orang sukses untuk belajar kenapa dia Sukses. (Bukan belajar negatifnya. Krn org sukses juga ada negatifnya, tidak selalu positif). Nraktir orang kaya, ikut tour mahal (luangkan waktu utk nempel dan belajar).., dll.

– Amal. Amal terbaik adalah untuk orang tua. Juga untuk orang-orang di sekitar kita. Kita tidak bisa outgive God. Tuhan selalu memberi lebih dari yang bisa kita berikan (hukum tabur tuai).

 

Apa pelajaran dari hal di atas ? banyak orang tetap jadi miskin karena belum punya passive income sudah boros. Masih hanya punya active income sudah banyak gaya… Akibat banyak gaya, malah banyak tekanan hidup.

Kapan bisa bergaya ? yaitu ketika passive income sudah melebihi gaya hidup Anda.

Cash flow positif, aliran uang masuk tiap bulan, tiap tahun tanpa bekerja lebih besar dari gaya hidup ini lah yg harus terus di tingkatkan. Jadikanlah Goal dalam Kehidupan Keuangan Anda.

Bagaimana caranya ?

Caranya sederhana, namun memerlukan kedisiplinan. Yaitu “Terima uang, langsung kita sisihkan dulu untuk investasi 50%, sisanya terserah kita mau dihabiskan atau tidak“. Dengan disisihkan setiap terima uang, maka akan terkumpul cukup uang untuk investasi. Bila tidak pernah disisihkan, mana ada yg bisa di investasikan..?

Semua hanya soal keyakinan dan kebiasaan. Ada orang yang berapapun ia terima uang tidak bisa disisihkan. Dengan posisi sama persis orang tersebut, juga selalu ada orang yg bisa menyisihkan, karena dia punya keyakinan “Berapapun income saya, begitu saya terima, harus saya sisihkan terlebih dulu, entah Rp. 1.000, kalau pas income sedikit, atau Rp. 100.000 pas income bertambah banyak.., Pasti Bisa!!!“.

Pengeluaran yang mendesak ada dua, yang benar-benar perlu dan yang sebetulnya tidak perlu atau bisa di ganti dengan yg lebih murah. Contoh: “Pak, gaji saya Rp. 3 juta, untuk menyicil motor saja Rp. 1,5 juta, belum makan, belum minum.., mana bisa menyisihkan???“. Tampak berat ya….? Nah siapa yg nyuruh menyicil Motor Rp. 1.5 juta? Beli Motor yg harga nya Rp. 20 juta an? Dicicil 2 th total habis Rp. 36 juta an. Setelah 3 th motor di jual tinggal Rp. 12 juta an? Hidup penuh pilihan. Kalau motornya perlu, silakan beli bekas yang Rp. 3 juta an. Juga bisa. Nabung dulu baru beli. Jadi tidak perlu bayar bunga kredit yg tinggi.

Semua terserah anda kok. Mau ngotot dan minta dimengerti, minta dimaklumi kalau anda ini incomenya kecil tidak bisa menyisihkan utk investasi… ya silakan. Tidak mau belajar dan usaha lagi untuk mengembangkan income… Lha nasib ya nasib anda sendiri. Tua sengsara ya yang sengsara anda sendiri kok repot?! Minta dimengerti? Minta dimaklumi…? Kita maklumi deh… gampang tho….

Financial IQ

Robert T. Kiyosaki seorang konsultan keuangan di Amerika, menjelaskan dalam bukunya mengenai kecerdasan keuangan “Financial IQ” terdiri dari lima bagian yaitu:

1. Menghasilkan uang (making money)

2. Melindungi uang (protecting money)

3. Membuat anggaran untuk uang (budget your money)

4. Mengungkit uang (leveraging your money)

5. Meningkatkan informasi keuangan (improve your financial information)

 

Bagaimana cara meningkatkan kecerdasan keuangan?

Menurut Edgar Gale, salah satu cara untuk meningkatkan kecerdasan keuangan adalah dengan membaca, mendengar, membicarakan dan melakukannya.

Memiliki kecerdasan akademik yang bagus tidak serta merta membuat kita lebih cerdas dalam urusan keuangan. Urusan uang tidak mengenal gelar dan umur. Tidak heran, banyak orang yang tiba-tiba menjadi bodoh saat berhadapan dengan urusan keuangan.

Kita perlu meluangkan waktu untuk mempelajari ketrampilan finansial secara khusus jika kita ingin mahir dalam menghasilkan dan mengelola uang kita.

Kecerdasan pertama: kecerdasan dalam menghasilkan uang

Kecerdasan ini diukur dari kemampuan Anda menghasilkan uang saat Anda tidak memiliki apa-apa. Ada pepatah bagus menyebutkan “Banyak orang yang begitu miskin karena satu-satunya hal yang mereka miliki adalah uang.” Elemen pertama dalam membangun kekayaan bukanlah uang itu sendiri, namun kemampuan Anda dalam menciptakan nilai bagi orang lain dan mengubahnya menjadi uang. Pertanyaannya adalah: Jika saat ini Anda kehilangan pekerjaan dan bisnis Anda, apa yang akan Anda lakukan untuk menghasilkan uang? Jawaban ini menentukan seberapa cerdas Anda dalam menghasilkan uang.

Kecerdasan kedua: kecerdasan dalam melindungi uang

Banyak orang yang jago dalam menghasilkan uang namun jelek dalam melindungi uang yang mereka hasilkan. Ciri-ciri orang yang kecerdasan nomor duanya masih perlu dilatih adalah mereka yang mudah tergiur dengan penawaran orang lain. Penawaran belanja konsumtif, penawaran kredit, penawaran investasi (yang tidak jelas), atau penawaran peluang bisnis (yang menggiurkan namun kita tidak memahami bidangnya). Akibatnya, kita menyalurkan uang kita ke saluran-saluran yang tidak jelas, tidak terukur, dan tidak tahu kapan kembalinya. Hal ini ibarat kita memiliki keran air yang menghasilkan banyak air, namun kolam yang kita gunakan untuk menampungnya bocor.

Apakah Anda sudah memiliki asuransi? Khususnya asuransi individual yaaaa. Jika sudah, coba dicek apakah asuransi yang Anda miliki saat ini sudah sesuai dengan kebutuhan Anda? Jangan sampai asuransi Anda melebihi kebutuhan Anda (sehingga premi lebih mahal) atau asuransi di bawah kebutuhan Anda (karena cuma mengejar premi murah).

Jangan salah ya, mikir asuransi untuk investasi. Asuransi fungsinya adalah proteksi lho,  bukan INVESTASI. Jadi kalau mengambil unit link, jangan taruh uang untuk investasinya terlalu besar. Bayar sesuai kemampuan saja.

Kecerdasan ketiga: kecerdasan dalam mengalokasikan uang

Orang yang cerdas dalam mengalokasikan uang memiliki panduan yang jelas berapa persen dari penghasilannya yang akan ia gunakan untuk konsumsi, berapa persen yang ia akan gunakan untuk investasi, berapa persen yang akan ia gunakan untuk sedekah dll. Mereka punya patokan anggaran yang jelas sehingga pengelolaan keuangan mereka pun lebih terarah. Sekecil apapun penghasilan Anda, mulailah membuat alokasi yang jelas kemana uang Anda perlu diarahkan.

Dalam keuangan keluarga pun juga sebaiknya seperti itu, punya budget atau anggaran. Ingat budget tujuannya biar seimbang (balance).

Sudah punya dana cadangan? Tujuannya sederhana jika ada pengeluaran yang mendadak, jangan mikir utang dulu. Gunakan dana cadangan (dana darurat) untuk membiayai kebutuhan yang mendadak. Dana cadangan ini minimal 10 kali gaji atau pendapatan bulanan.

Kecerdasan keempat: kecerdasan dalam mengungkit uang

Mengungkit artinya bagaimana menggunakan tenaga kecil untuk menghasilkan tenaga yang lebih besar. Mengungkit uang memiliki arti yang sama. Bagaimana menggunakan uang kecil untuk menghasilkan uang yang lebih besar. Tiga orang yang memiliki uang yang sama, katakanlah satu juta, bisa jadi memiliki akhir yang berbeda bergantung bagaimana mereka mengolah uang yang mereka pegang. Ada yang mungkin berakhir dalam kondisi berhutang. Ada yang berhasil menghasilkan dua juta rupiah. Ada juga yang mungkin berhasil menghasilkan sepuluh juta rupiah dari uang satu juta yang mereka miliki.

Terkait dengan kartu kredit, gunakan uang bank untuk membiayai pengeluaran Anda di awal (Use Other People Money). JANGAN GUNAKAN KARTU KREDIT UNTUK HUTANG!!!. Gunakan kartu kredit untuk membayar lebih awal pengeluaran Anda dan bayarlah tagihan tepat waktu.

Contoh yang baik dalam menggunakan kartu kredit : Misal teman-teman kantor ngajak makan siang di rumah makan ABC, kebetulan kartu kredit Anda punya program diskon, gunakan kartu kredit untuk mendapatkan diskon. Gunakan uang bank untuk membayar makan siang Anda saat ini, nanti diakhir bulan BAYAR LUNAS semuanya.

Kecerdasan kelima: kecerdasan dalam mencari informasi keuangan

Faktor utama untuk melatih keempat kecerdasan di atas adalah kecerdasan kelima ini: kemampuan kita untuk mencari informasi keuangan dari sumber yang valid. Tanpa kemampuan ini kita akan tersesat di dalam hutan informasi keuangan yang beredar di atas bumi ini. Tanpa informasi yang berkualitas, kita tidak akan mampu membaca peluang dengan tepat. Tanpa informasi yang tepat, kita akan terjebak dalam investasi yang tidak jelas. Tanpa informasi keuangan yang benar, kita tidak akan berhasil menghasilkan dan mengembangkan uang kita sesuai yang kita harapkan. Salah satu nasehat paling berharga yang saya dapatkan mengenai hal ini adalah: invest your time before invest your money. Jangan pernah berinvestasi di instrumen yang tidak Anda pahami!

 

Semoga bermanfaat, Ingat, Hidup Adalah Pilihan Anda tidak Bisa memilih Antara Bersenang-senang dengan Menunda Kesenangan secara Bersamaan

Bangun Pipa-Pipa Aliran Uang Anda mulai sekarang sebelum semuanya terlambat!

Berani bermimpi besar (dare to dream big) dengan memulai langkah-langkah kecil….

 

Menang 2 Babak

Riset Ilmiah membuktikan :

1. Sebuah smartphone, 70% fiturnya tidak terpakai (mubazir)

2. Sebuah mobil mewah, 70% speednya mubadzir.

3. Sebuah villa mewah, 70% luasnya dibiarkan kosong.

4. Sebuah Universitas, 70% materi kuliahnya tidak dapat diterapkan.

5. Seabreg kegiatan sosial masyarakat, 70% nya iseng² tidak bermakna.

6. Pakaian & peralatan dalam sebuah rumah, 70%nya nganggur tidak terpakai.

7. Seumur hidup cari duit banyak², 70% nya dinikmati ahli waris

” Hidup seperti pertandingan bola ” Babak Pertama (masa muda) Menanjak karena Pengetahuan, Kekuasaan, Jabatan, Usaha Bisnis, Salary dsb.

“Babak kedua (masa tua) menurun “Karena Darah Tinggi, Trigliserid, Gula Darah, Asam Urat, kolestrol… dsb

Waspada dari Awal hingga Akhir, Kita harus Menang 2 Babak !!!

Tidak Haus juga harus Minum.

Galau juga Harus Cari Solusi.

Benar Juga Harus Mengalah.

Pinter juga Perlu Merendah.

Tidak Cape’ pun Perlu Istirahat.

Tidak kaya pun Perlu Bersyukur.

Sesibuk Apa pun Juga Perlu Olahraga.

Sadarilah, hidup itu Pendek, pasti ada Saatnya Finish !!!

Jangan tertipu dengan usia MUDA…

Karena syarat mati tidak mesti TUA…

Jangan terpedaya dengan badan SEHAT…

Karena syarat mati tidak mesti SAKIT.

Teruslah berbuat baik, berkata baik, memberi nasihat yang baik. Walaupun tidak banyak orang yg memahamimu,

Jadilah seperti jantung …Yang tidak terlihat tetapi terus berdenyut setiap saat hingga membuat kita terus hidup menjelang akhir hayat…

AJAL Tak MengenaL Waktu & Usia,

Jadi…Terus Berbuat Baik, Mengucap Syukur apa yg sdh ada & menyampaikan Kebenaran terhadap Sesama…

Bekerjalah hari ini tidak hanya untuk hidup saat ini, tetapi juga untuk hidup di masa depan.

 

“Kisah Nyata Pedagang Glodok”

Ada keluarga, nama suaminya koh Acong dan istrinya ci Asien. Pada saat menikah, koh Acong umur 29 dan ci Asien umur 27 tahun.

Suami istri ini hidupnya hemat sekali, sangat ulet dan rajin berdagang. Toko buka paling pagi jam 7 dan tokonya tutup paling malam di banding toko lainnya.

10 tahun kemudian , krn ketrampilan istrinya mengelola keuangan, mereka sudah memiliki deposito 30 milyar di bank, tapi hidup mereka tetap super sederhana. Istrinya sangatlah hemat, bahkan membeli baju barupun cuma 5 potong dan setahun cuma sekali di waktu imlek. Tas tidak pernah yg bermerek dan tidak pernah ikut arisan dan bergaul dengan lainnya.

Suami istri ini juga tidak pernah rekreasi dan hanya fokus pagi kerja dan pulang kerja untuk istirahat. Begitu setiap harinya. Bahkan untuk makan di restaurant pun setahun bisa di hitung dengan jari. Karena hanya bekerja mereka tidak mempunyai banyak teman dan bersedekah juga tidak pernah.

Usia 42 tahun Ci asien kena serangan jantung dan meninggal, uang mereka pada saat ci asien meninggalkan sudah ada 45 milyar.

Tak lama belum sampai setahun, koh acong kemudian menikah dengan mantan pelayan tokonya dan mulai menikmati hidup santai.

Si pelayan toko bilang sambil tersenyum “koko Acong, selama ini aku pikir aku kerja buat ci Asien, tapi ternyata dia yang telah bekerja buat saya ^^”.

Jadi, sebelum anda jadi seperti ci Asien, ingatlah untuk :
1. Menjaga kesehatan anda dengan olahraga dan makan nutrisi yg baik
2. Percantik diri anda supaya awet muda
3. Pakailah pakaian yg cantik, jangan terlalu sederhana. Pepatah jawa bilang : “Ajining rogo soko busono”. Tampilah elegan
4. Gunakanlah barang yg baik
5. Fokuslah membangun passive income untuk bekal pensiun kelak, bukan menumpuk uang di deposito tapi terus tetap bekerja keras. Semua harus seimbang.
6. Tamasyalah setiap tahun beberapa kali dengan keluarga. Anak-anak akan punya kenangan yang sangat indah ketika mereka mengingat waktu kecil sering diajak tamasya bersama keluarga.
7. Bertemanlah yang banyak dengan teman-teman yang baik dan jangan terlalu pelit untuk mentraktir. Selalu usahakan Anda ke kasir duluan!
8. Hiduplah damai dengan semua orang, jangan banyak musuh!
9. Biasakan diri untuk bersedekah, melayani Tuhan dan Sesama. Gunakanlah uang Anda dengan cara yang benar dengan tujuan-tujuan yang baik dan MULIA, bukan untuk bergaya hidup MEWAH nan BOROS. Lihat di sekeliling kita, masih banyak orang-orang yang tidak beruntung, yang untuk hidup sehari-hari sudah susah, bahkan ada yang makan hanya 3 hari sekali, bayi dan anak-anak terkena busung lapar / kurang gizi / gizi buruk.

Jangan seperti ci Asien yang luar biasa berhemat tanpa menikmati hidup, sehingga yang menikmati malah orang lain.

💲Duit… tak bisa dibawa mati, tapi tak ada duit memang rasanya mau mati.

💲Duit… tak bisa beli kasih sayang, tapi kasih sayang bisa melayang bila tak ada duit.

💲Duit… tak bisa beli tidur nyenyak, tapi tak ada duit tidur pun tak nyenyak.

💲Duit… tak bisa beli kesehatan, tapi untuk sehat pun diperlukan duit lo.

💲Duit… tak bisa beli kebijaksanaan, tapi untuk mendapatkan ilmu jg diperlukan duit.

💲Duit… orang bodoh nampak cerdik bila ada duit, tapi orang cerdik nampak bodoh bila tak ada duit.

💲Duit… bukan segalanya, tapi segalanya perlu DUIT 🙄🙄🙄🙄

💲Duit… duit yang banyak memang tidak dibawa mati, tapi duit yg banyak bisa MENOLONG orang-orang yang HAMPIR MATI! Jadilah saluran berkatNya! Selagi masih ada KESEMPATAN untuk BERBUAT BAIK.

 

1. Hidup jangan Boros
2. Hidup jangan sebentar-sebentar Pengeluaran
3. Hidup harus Hemat
4. Tapi jangan hidup Kikir

 

Salam bahagia buat semuanya. 😀”

Sumber :

  1. Iwan Kenrianto
  2. Tung Desem Waringin
  3. Darmawan Aji
  4. Kingdom Business Community (KBC) Surabaya
  5. Agus Piranhamas
1083 Total Views 2 Views Today